Mobil

Rencana Mobil Nasional, Pengamat: Harus Jelas Targetnya Untuk Pejabat atau Rakyat

Moveroad – Rencana pemerintah untuk kembali menghidupkan proyek mobil nasional (mobnas) memicu berbagai tanggapan di kalangan industri otomotif. 

Salah satunya datang dari pengamat otomotif Bebin Djuana, yang menilai bahwa arah dan tujuan dari proyek ini harus dipastikan sejak awal agar tidak menjadi proyek sesaat tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.

“Terkait mobil nasional, sebetulnya targetnya apa? Untuk dipakai pejabat pemerintah? Atau nantinya bisa dinikmati masyarakat? Hal ini harus jelas dulu,” ujar Bebin.

Baca Juga: Indonesia Bakal Memiliki Mobil Nasional Pada 2028, Prabowo Sebut Model Jeep 

Lebih lanjut,menurut Bebin, jika proyek mobil nasional hanya ditujukan untuk kebutuhan pejabat, semangatnya dikhawatirkan tidak akan bertahan lama.

“Kalau pilihan pertama yang jadi target, saya kuatir semangatnya hanya seumur jagung. Pejabat-pejabat hanya memakai beberapa kali di awal, atau terpaksa pakai di acara resmi ketika presiden hadir dan mengamati. Selebihnya, mobil itu hanya akan diparkir di depan kementerian bak pajangan atau hiasan, karena para pejabatnya lebih suka naik mobil mewahnya,” ungkapnya.

Bebin menilai bahwa keberhasilan sebuah proyek mobil nasional tidak bisa hanya diukur dari prestise atau simbol kemandirian industri semata, melainkan harus benar-benar menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan dan kemampuan daya beli masyarakat.

Mobil Nasional Harus Bisa Dinikmati Publik

Jika cita-citanya adalah agar mobil nasional dapat dinikmati oleh masyarakat luas, Bebin menekankan pentingnya perencanaan yang matang dan realistis sejak tahap awal.

Baca Juga: Proyek Mobil Nasional Prabowo Sebut Toyota Alphard, Tapi Maung Lebih Membanggakan 

“Jika cita-citanya suatu hari masyarakat bisa ikut menikmati, maka yang dipersiapkan tentu desain, ukuran, jenis, dan target harga yang diharapkan masyarakat,” tambahnya.

Hal ini mencakup strategi yang mencerminkan karakter dan kebutuhan pasar Indonesia, seperti efisiensi bahan bakar, daya tahan, serta biaya perawatan yang terjangkau. Mobil nasional juga harus memiliki nilai tambah teknologi tanpa mengorbankan keterjangkauan harga.

Butuh Dukungan Pabrikan Besar

Lebih jauh, Bebin mengingatkan bahwa membangun mobil nasional dari nol adalah proses panjang dan mahal. Ia menilai dibutuhkan kemitraan dengan pabrikan global agar proyek ini memiliki fondasi teknis yang kuat.

“Sejak persiapan dibutuhkan dukungan pabrik besar yang mau menjadi pembimbing, karena jika ambisinya ingin mulai dari awal sendiri, berapa tahun yang dibutuhkan? Berapa besar dana tersedia? Dan ketika tiba waktunya, desain dan teknologi sudah tertinggal dari yang ada di pasar global,” jelasnya.

Baca Juga: Suzuki Bawa Kejutan Mobil Baru di GJAW, Grand Vitara Kuro Meluncur? 

Menurutnya, tanpa dukungan industri otomotif mapan dan ekosistem rantai pasok yang kokoh, proyek mobil nasional berpotensi menjadi beban fiskal daripada katalis ekonomi.

Wacana mobil nasional bukan hal baru di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai upaya serupa sempat muncul namun tidak berumur panjang karena lemahnya dukungan kebijakan, arah bisnis yang kabur, dan minimnya keberlanjutan industri komponen lokal.

Karenanya, Bebin menegaskan bahwa jika pemerintah serius ingin melahirkan mobil nasional, maka visi jangka panjang, transparansi, dan konsistensi kebijakan menjadi kunci utama agar proyek ini tidak kembali berakhir sebagai sekadar “mobil proyek”.

Related Articles

Back to top button