Mobil Listrik Ini Berisiko Kehilangan Tenaga, Pemilik di Indonesia Wajib Waspada
Masalah baterai membuat Tesla harus menarik ribuan unit Model 3 dan Model Y, termasuk yang beredar di Indonesia
Moveroad — Produsen mobil listrik ternama asal Amerika Serikat, Tesla, kembali diterpa masalah serius. Setelah kehilangan insentif clean vehicle tax credit, kini perusahaan milik Elon Musk itu harus melakukan recall 12.963 unit mobil listrik karena potensi kehilangan tenaga mendadak saat berkendara (loss of drive power).
Menurut laporan resmi National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), kendaraan yang terdampak recall ini dilengkapi komponen contactor pada baterai yang berpotensi gagal berfungsi. Jika contactor gagal, mobil bisa kehilangan tenaga penggerak tanpa peringatan, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Kasus Tesla recall 2025 ini mencakup ribuan unit Model 3 tahun 2025 dan Model Y tahun 2026. Meski begitu, hanya sekitar 1% kendaraan yang diyakini memiliki cacat tersebut tulis laporan dilansir dari Carscoops Kamis (23/10).
Baca Juga: Pengamat: Harus Jelas Targetnya Untuk Pejabat atau Rakyat
Dalam laporan NHTSA, dijelaskan bahwa contactor baterai menggunakan solenoid merek InTiCa yang bisa “terbuka secara tiba-tiba” akibat sambungan kumparan yang buruk (poor coil termination connection). Hal ini memutus arus listrik dari baterai ke motor penggerak, menyebabkan mobil kehilangan tenaga (propulsion loss).
Tesla mulai melakukan investigasi sejak Agustus 2025, setelah menerima laporan kendaraan yang tidak bisa berpindah dari posisi parkir ke drive. Hasil penyelidikan menemukan adanya resistansi tinggi pada contactor baterai, yang akhirnya memicu langkah recall massal.
Tesla mengonfirmasi telah menerima 26 laporan lapangan dan 36 klaim garansi terkait masalah ini. Namun sejauh ini belum ada laporan kecelakaan atau cedera yang disebabkan oleh kegagalan contactor tersebut.
Sebagai langkah perbaikan, Tesla akan mengganti contactor bermasalah dengan versi baru yang tidak menggunakan solenoid InTiCa. Perusahaan menegaskan perbaikan akan dilakukan gratis di seluruh pusat layanan resmi Tesla.
Program Recall Dimulai 9 Desember 2025
Tesla menjadwalkan untuk mulai mengirimkan surat pemberitahuan recall kepada para pemilik kendaraan pada 9 Desember 2025. Pemilik Tesla dapat membawa kendaraan mereka ke service center resmi Tesla untuk dilakukan pemeriksaan dan penggantian komponen.
Baca Juga: Indonesia Bakal Memiliki Mobil Nasional Pada 2028, Prabowo Sebut Model Jeep
Langkah ini menunjukkan komitmen Tesla dalam menjaga keamanan dan keandalan mobil listriknya, meski di tengah meningkatnya tekanan dari pasar global dan regulasi baru yang semakin ketat.
Dampak terhadap Tesla Indonesia
Menariknya, Tesla Indonesia kini telah mencatat penjualan lebih dari 13.000 unit hingga pertengahan 2025, dengan Model 3 dan Model Y menjadi model paling laris di segmen mobil listrik premium.
Namun kabar recall Tesla 2025 ini bisa memengaruhi persepsi konsumen terhadap keandalan mobil listrik Tesla di Indonesia. Meski belum ada laporan unit di Tanah Air yang terdampak langsung, para pemilik diimbau memantau pengumuman resmi Tesla Indonesia dan melakukan pengecekan nomor rangka (VIN) bila diperlukan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penghapusan insentif pajak di AS hingga kritik terhadap fitur pintu elektrik di Eropa, Tesla tetap menjadi ikon mobil listrik global.
Di Indonesia sendiri, Tesla masih memimpin segmen EV premium berkat performa tinggi, desain futuristik, dan teknologi autopilot yang terus berkembang. Namun, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa mobil listrik berteknologi tinggi tetap memerlukan pengawasan ketat pada aspek keselamatan dan kualitas komponen utama.
Tesla recall 2025 menjadi salah satu peringatan terbesar tahun ini bagi industri kendaraan listrik dunia. Meski jumlah unit yang terdampak relatif kecil, isu kehilangan tenaga mendadak pada mobil listrik tetap menjadi perhatian utama bagi para pengguna dan regulator.
Tesla telah bertindak cepat dengan menawarkan perbaikan gratis dan transparansi penuh — langkah penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan di pasar global, termasuk di Indonesia.



