Banyak Anak Muda Kaya Raya, Ferrari Ungkap Data Terbaru Konsumennya
Moveroad – Ferrari sedang memasuki babak baru dalam peta konsumennya. CEO Ferrari Benedetto Vigna mengungkap data menarik: 40% pelanggan baru Ferrari kini berusia di bawah 40 tahun.
Angka tersebut naik drastis dibandingkan 18 bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran 30%. Perubahan ini menandai munculnya gelombang baru pembeli supercar didominasi para pengusaha muda, talenta digital, hingga investor teknologi yang mencapai kesuksesan finansial lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.
“Ini adalah transformasi yang nyata, sekaligus menggambarkan bagaimana pola konsumsi produk mewah kini bergeser ke kelompok usia yang lebih muda.” ujar Vigna diansir dari Motorauthority Jumat (14/10).
Tiga Mobil Honda Berteknologi Hybrid Borong Penghargaan Bergengsi
Harga Selangit Ferrari
Meski harga termurah Ferrari berada di kisaran US$230.000 setara Rp3,8 miliar, minat generasi muda terhadap brand Cavallino Rampante justru meningkat. Ferrari juga dikenal menjual sekitar tiga perempat produksinya kepada pelanggan lama, menandakan kuatnya komunitas loyalis mereka.
Namun, permintaan yang semakin tinggi mendorong Ferrari untuk menaikkan volume produksi, meski tetap dalam batasan eksklusivitas yang ketat. Tahun lalu, Ferrari mengirimkan 13.752 unit, mencatat rekor baru dengan kenaikan tipis 0,7% dari tahun sebelumnya.
Kendati begitu, Vigna menegaskan bahwa tingkat permintaan masih jauh melebihi pasokan. “Waktu tunggu lebih dari dua tahun tetap terjadi,” katanya.
EV Pertama Ferrari Siap Ubah Peta Konsumen
Ferrari tengah menyiapkan debut historis: model listrik pertamanya, yang dirancang sebagai SUV bertenaga penuh. Prototipe menyamarnya telah beberapa kali tertangkap kamera, dan peluncuran resminya dijadwalkan pada 9 Oktober, dengan pengiriman perdana dimulai pada 2026.
Menurut Vigna, sejumlah calon pelanggan baru menyampaikan bahwa mereka hanya ingin membeli Ferrari listrik, bukan model bermesin bensin. Fenomena ini membuka peluang hadirnya basis pelanggan yang sama sekali baru, sekaligus mempercepat transformasi elektrifikasi Ferrari.
Ferrari sudah menyiapkan peta jalan elektrifikasi jangka panjang. Pada Januari lalu, perusahaan memperkirakan 80% model yang dijual pada 2030 adalah hybrid dan EV, sementara sisanya merupakan mobil bermesin bensin konvensional.
Namun Ferrari masih mencari cara agar mesin pembakaran internal tetap hidup di masa depan. Vigna bahkan menyebut synthetic fuel sebagai opsi realistis untuk menjaga eksistensi mesin bensin di tengah regulasi emisi yang semakin ketat.
Perubahan demografi pembeli Ferrari menunjukkan bahwa supercar asal Italia tersebut tidak hanya mampu mempertahankan eksklusivitas, tetapi juga berhasil menyesuaikan diri dengan dinamika baru konsumennya. Dengan 40% pelanggan baru berasal dari generasi muda, Ferrari kini tak lagi sekadar merek warisan, melainkan simbol aspirasi baru para miliuner muda global.



