Ford Tembak Balik Produsen China, Masuk Pasar AS Ini Syaratnya
Moveroad – CEO Jim Farley dilaporkan tengah melobi pemerintahan Donald Trump terkait strategi menghadapi potensi masuknya produsen mobil China ke pasar AS (Amerika Serikat).
Alih-alih menutup pintu sepenuhnya, Farley menawarkan pendekatan yang lebih taktis: izinkan pabrikan China masuk, tetapi wajib melalui joint venture dengan perusahaan AS sebagai pemegang saham mayoritas.
Langkah ini dinilai sebagai strategi “keep your friends close, and competitors closer”, sekaligus upaya mengontrol ekspansi otomotif China di pasar domestik AS.
Skema Joint Venture Sebagai Gerbang Masuk
Menurut laporan Bloomberg, Farley bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Perwakilan Dagang AS, Menteri Perhubungan, dan pimpinan EPA dalam ajang Detroit Auto Show bulan lalu.
Baca juga: DNA Teknologi BYD di IIMS 2026: e3 dan e4 Platform Jadi Fondasi Mobilitas Listrik Masa Depan
Syarat Wajib Produsen China diantaranya:
- Pabrikan China boleh membangun mobil di AS
- Harus berbentuk joint venture
- Perusahaan Amerika memegang saham mayoritas
- Keputusan akhir tetap di tangan mitra AS
- Keuntungan dan teknologi dibagi
Skema ini mirip dengan aturan yang dulu diberlakukan China kepada pabrikan Barat ketika ingin masuk pasar Tiongkok.
Sebagai gambaran, Ford sendiri telah lama beroperasi di China melalui joint venture, termasuk produksi Ford Mondeo bersama Changan.
Isu Keamanan dan Proteksi Pasar
Chief Communications Officer Ford, Mark Truby, menegaskan pentingnya melindungi pasar domestik dari “banjir kendaraan bersubsidi dari China”. Selain itu, Ford juga mengangkat isu keamanan data dan keamanan nasional terkait kendaraan pintar asal China.
Baca juga: BEYOND Community Tampilkan Pengalaman Nyata Kendaraan Listrik BYD di IIMS 2026
Namun, laporan menyebut proposal Farley mendapat respons dingin dari sebagian pejabat Washington yang khawatir terhadap dampak politiknya.
Dalam pidato di Detroit Economic Club, Presiden Trump menyatakan bahwa produsen China bisa menjual mobil di AS jika membangun pabrik dan mempekerjakan tenaga kerja Amerika. Pernyataan ini membuka kemungkinan kompromi, terutama menjelang pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping.
Ancaman Nyata dari EV China
Farley sendiri bukan sosok yang meremehkan kekuatan China. Ia bahkan pernah menyebut mobil listrik China sebagai “ancaman eksistensial” bagi industri Barat.
Sebagai bagian dari benchmarking, ia diketahui menggunakan Xiaomi SU7 sebagai mobil harian untuk mempelajari kualitas rancang bangun dan teknologi powertrain listriknya.
Selain itu, Ford juga mulai memperdalam kolaborasi teknis, termasuk, Lisensi teknologi baterai dari CATL untuk proyek BlueOval Battery Park senilai USD 3,5 miliar di Michigan dan Pembicaraan dengan BYD untuk pasokan baterai lini hybrid.
Di sisi lain, Ford juga tengah mengembangkan model listrik terjangkau untuk pasar domestik, termasuk pikap listrik seharga USD 30.000 yang dijadwalkan meluncur pada 2027.
Strategi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing menghadapi kendaraan listrik China yang dikenal murah namun sarat teknologi.
Usulan joint venture ala Farley mencerminkan pendekatan pragmatis: bukan menutup pintu sepenuhnya, tetapi mengatur mekanisme masuk agar tetap menguntungkan industri dalam negeri.
Pertanyaannya kini, apakah Washington siap membuka celah bagi produsen China dengan kontrol ketat, atau justru memilih mempertahankan proteksi total?
Yang jelas, dinamika ini akan sangat menentukan masa depan industri otomotif global, terutama di tengah percepatan elektrifikasi dan kompetisi teknologi yang semakin intens.



