Bezzecchi Dominan, Aprilia Peringatkan Begini Jika Konsisten di Sprint
Moveroad.id – Performa impresif Marco Bezzecchi di awal musim MotoGP 2026 menjadi sorotan utama. Pembalap Aprilia Racing tersebut kini memimpin klasemen sementara usai mengoleksi 81 poin dari tiga seri pembuka hasil yang ditopang dominasi sempurna pada balapan utama hari Minggu.
Namun di balik performa gemilang tersebut, terdapat kontras mencolok pada sesi Sprint hari Sabtu.
Bezzecchi tampil nyaris tanpa cela di balapan Grand Prix, dengan raihan total 75 poin dari tiga race utama. Sebaliknya, di Sprint Race, ia hanya mampu mengumpulkan 6 poin dari maksimal 36 poin yang tersedia.
Dua insiden krusial menjadi penyebab utama, terjatuh saat memimpin Sprint di Buriram, kecelakaan saat mengejar Francesco Bagnaia di COTA.
Baca Juga: Aprilia Racing Ukir Sejarah di Austin, Bezzecchi Menang Lima Kali Beruntun
Kesalahan tersebut membuatnya kehilangan potensi hingga 24 poin jumlah yang bisa membuatnya mencetak rekor poin tertinggi di awal musim.
CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, secara terbuka mengakui perbedaan performa tersebut.
Menurutnya, Bezzecchi sudah sempurna di hari Minggu, namun masih perlu memperbaiki performa di Sprint.
“Dia adalah ‘Sunday man’. Tapi begitu dia juga menjadi ‘Saturday man’, dia akan sangat menakutkan,” ujar Rivola, dilansir crash Selasa (7/3).
Pernyataan ini menegaskan bahwa potensi Bezzecchi belum sepenuhnya tereksplorasi.
Persaingan Sprint Lebih Ketat
Jika melihat klasemen khusus Sprint, Bezzecchi justru berada di posisi ke-10—kontras dengan posisinya sebagai pemimpin klasemen utama.
Sebaliknya, rekan setimnya Jorge Martin tampil sebagai raja Sprint sejauh ini dengan 24 poin, termasuk kemenangan bersama Aprilia di COTA.
Beberapa pembalap lain juga menunjukkan performa lebih kuat di Sprint dibandingkan klasemen utama, seperti, Marc Marquez, Pedro Acosta dan Alex Marquez.
Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi di dua format balapan kini menjadi kunci utama dalam perebutan gelar MotoGP modern.
Bagnaia dan Anomali Performa
Menariknya, Francesco Bagnaia justru menunjukkan pola sebaliknya. Ia tampil cukup kuat di Sprint, namun hanya berada di posisi ke-12 dalam perolehan poin balapan utama hari Minggu.
Fenomena ini menegaskan bahwa karakter Sprint dan Grand Prix kini menuntut pendekatan berbeda dari setiap pembalap.
Dengan format Sprint yang semakin menentukan, gelar juara tidak lagi hanya ditentukan dari performa hari Minggu.
Jika Bezzecchi mampu menyatukan performa dominan di Grand Prix dengan konsistensi di Sprint, maka peluangnya untuk menjauh di klasemen akan semakin besar.
Sebaliknya, jika kelemahan di hari Sabtu terus berlanjut, para rival seperti Martin dan Marquez siap memanfaatkan celah tersebut. Di titik ini, satu hal menjadi jelas: Bezzecchi sudah cepat tinggal menjadi lengkap.



