Mobil

Mercedes Benz Kena Larangan Jual Mobil Gegara Alasan Ada China-nya 

Moveroad.id – Mercedes-Benz menjadi salah satu merek otomotif asal Jerman yang memiliki hubungan bisnis cukup kuat dengan China. Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa pabrikan asal Stuttgart itu dapat ikut terdampak aturan baru Amerika Serikat yang menargetkan kendaraan dan perusahaan dengan keterkaitan kepemilikan maupun teknologi dari China.

Kekhawatiran tersebut seperti dilansir dari Carscoops Minggu (4/10) muncul setelah sejumlah anggota parlemen AS mendorong rancangan undang-undang yang secara permanen memperketat masuknya kendaraan dengan hubungan China ke pasar Amerika Serikat. Aturan ini tidak hanya menyasar kendaraan yang diproduksi di China, tetapi juga perusahaan otomotif yang memiliki tingkat kepemilikan China di atas batas tertentu.

Rancangan aturan tersebut sebelumnya mengalami kebuntuan di Senat dan kemungkinan baru akan kembali dibahas setelah pemilu sela. Jika disahkan, regulasi ini berpotensi memberikan dampak lebih luas dibanding kebijakan sebelumnya yang telah membatasi penjualan kendaraan China di AS.

Baca juga: Di Balik BAW Ada Raksasa Industri China Weiqiao, Ini Skala Bisnisnya

Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian industri adalah larangan bagi perusahaan dengan kepemilikan China lebih dari 15 persen untuk menjual kendaraan di pasar AS.

Kepemilikan China di Mercedes-Benz

Dalam struktur kepemilikan Mercedes-Benz saat ini, Beijing Automotive Group atau BAIC Group tercatat memiliki sekitar 9,98 persen saham Mercedes-Benz. Di sisi lain, Eric Li Shufu, pendiri sekaligus chairman Geely, menguasai sekitar 9,7 persen saham.

Jika kedua kepemilikan tersebut dihitung secara bersamaan, porsi yang terkait dengan investor China berada di kisaran 20 persen. Angka ini berada di atas ambang 15 persen yang menjadi salah satu poin penting dalam rancangan undang-undang tersebut.

Situasi itu kemudian memunculkan pertanyaan apakah Mercedes-Benz dapat tetap menjual mobilnya di Amerika Serikat apabila aturan tersebut diberlakukan.

Baca juga: Suzuki Tanam 1.500 Mangrove di Pangandaran, Lanjutkan Program Sejak 2024

Kekhawatiran tersebut sempat disampaikan Senator Republik Rand Paul. Namun, Senator Republik Bernie Moreno yang menjadi salah satu pengusung rancangan aturan bersama Senator Demokrat Elissa Slotkin mengatakan, ketentuan tersebut perlu dirancang ulang agar tidak secara tidak sengaja membuat Mercedes-Benz keluar dari pasar AS.

“Kami tidak akan membuat presiden Amerika Serikat menandatangani undang-undang—dan dia juga tidak akan melakukannya—yang melarang Mercedes-Benz dari Amerika Serikat,” kata Moreno seperti dikutip The Washington Post.

Menurut Moreno, pembuat undang-undang masih harus mencari mekanisme yang tepat untuk mengatur kepemilikan perusahaan asing tanpa memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap produsen seperti Mercedes-Benz.

Ia juga mempertanyakan apakah Mercedes-Benz dapat menurunkan porsi kepemilikan China hingga di bawah 15 persen tanpa memberikan dampak besar terhadap perusahaan.

Bukan Hanya Mercedes-Benz

Persoalan serupa juga berpotensi menimpa sejumlah merek lain yang memiliki hubungan kepemilikan dengan perusahaan China.

Salah satunya Volvo Cars. Merek asal Swedia tersebut saat ini mayoritas dimiliki oleh Geely, perusahaan otomotif China yang juga memiliki hubungan bisnis dengan Mercedes-Benz melalui kepemilikan saham.

Karena itu, Moreno menyebut anggota parlemen juga perlu mencari formula agar Volvo tetap dapat menjual kendaraan di Amerika Serikat apabila aturan mengenai kepemilikan China diberlakukan.

Aston Martin juga berpotensi masuk dalam pembahasan. Geely diketahui memiliki sekitar 17 persen saham produsen mobil sport asal Inggris tersebut. Angka tersebut juga melewati ambang 15 persen yang tercantum dalam rancangan aturan.

Dengan demikian, persoalan yang dihadapi AS bukan semata-mata mengenai mobil yang diproduksi di China. Struktur kepemilikan perusahaan otomotif global juga menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana aturan tersebut nantinya diterapkan.

Bagi industri otomotif global, kondisi ini menunjukkan semakin rumitnya hubungan antara bisnis otomotif, rantai pasok, teknologi, dan kebijakan keamanan nasional. Produsen yang selama bertahun-tahun membangun struktur bisnis lintas negara kini harus menghadapi kemungkinan perubahan regulasi berdasarkan asal kepemilikan dan teknologi yang digunakan.

Untuk Mercedes-Benz, setidaknya pernyataan Moreno menunjukkan adanya upaya dari pembuat kebijakan untuk memastikan aturan baru tidak secara langsung mengeluarkan merek tersebut dari pasar Amerika Serikat. Namun, bentuk akhir regulasi dan bagaimana batas kepemilikan tersebut akan diterapkan masih harus menunggu proses pembahasan lebih lanjut di Kongres AS.

Related Articles

Back to top button