Evolusi Desain Mobil dan Alasan Destinator Cocok untuk Gaya Hidup Indonesia
Moveroad – Bentuk mobil di Indonesia mengalami perubahan besar. Dulu sedan merajai jalanan: rendah, panjang, dan terlihat “rame” di depan. Lalu muncul MPV, kemudian SUV. Kini tren kembali bergeser dari hatchback rendah menjadi compact SUV yang tinggi, ramping, dan mudah dikendalikan.
Perubahan ini bukan sekadar soal gaya, tapi adaptasi terhadap lingkungan dan kebutuhan pengemudi. Indonesia dengan curah hujan tinggi dan kondisi jalan beragam membuat konsumen cenderung memilih posisi duduk yang lebih tinggi demi rasa aman dan visibilitas yang lebih baik.
Namun SUV lama punya stigma: besar, berat, boros, dan terasa menakutkan untuk sebagian pengemudi, khususnya perempuan. Di sinilah konsep SUV modern berubah.
Baca juga: Aliansi Mitsubishi–Nissan Langsung Produksi Rogue PHEV dan Navara
Mas Rifat Sungkar mengibaratkan evolusi mobil seperti perubahan hunian dari rumah ke apartemen.
Mobil dulu ibarat rumah: lebar, rendah, dan panjang. Posisi duduk rendah membuat kaki harus lurus ke depan, setir jauh, dan hidung mobil terasa panjang. Secara psikologis, pengemudi terutama perempuan sering merasa mobil “kegedean”.
Sekarang mobil seperti apartemen: ramping tapi tinggi. Posisi duduk lebih tegak, pedal dekat, setir dekat, semua terasa kompak. Alhasil mobil terlihat SUV, tapi pengoperasiannya ringan.
Formula inilah yang dipakai Mitsubishi pada Destinator. Meski bodinya compact, visibilitas kap mesin terlihat jelas dan kabin terasa flat ke depan.
Baca juga: Mitsubishi Xforce Resmi Meluncur di Taiwan Januari 2026, Diproduksi Lokal oleh CMC
“Pengemudi punya patokan visual. Jadi nggak ada lagi rasa ‘hidung mobil sudah sampai mana’. Itu bikin perempuan lebih pede bawa SUV,” jelas Rifat dalam sesi diksusi Touring Forwot, Bogor (23/1/2026).
Itulah kenapa sekarang banyak perempuan nyaman memilih SUV ringan (lightweight SUV), bukan lagi hanya hatchback kecil.
SUV yang Ramah Lifestyle Perkotaan
Perubahan tren ini bukan cuma teknis, tapi juga lifestyle. Emansipasi membuat perempuan tidak lagi sekadar penumpang, tapi owner.
“Sekarang cewek nyetir SUV itu cool. Bahkan sports car pun sekarang banyak dimiliki perempuan. Itu perubahan gaya hidup,” ujar Rifat.
Destinator masuk di titik tengah: tidak sebesar medium SUV yang masih perlu footstep, tapi juga tidak sekecil city car. Ukurannya efisien, gampang parkir, gampang keluar-masuk, dan mudah memasukkan barang tanpa ribet lipat badan.
Dari sisi fungsi, Destinator lebih pas sebagai teman keluarga:
- Mudah masuk keluar.
- Akomodasi lega.
- Tidak perlu effort besar saat membawa penumpang penuh.
- Cocok untuk belanja, kerja, hingga liburan.
Ditambah konsep theater seat, di mana baris belakang lebih tinggi dari depan, meminimalisir konflik pandangan penumpang. Semua tetap bisa melihat ke depan tanpa harus geser-geser kepala.
Mesin 1.5 Turbo: Bukan Turbo “Jaman Dulu”
Kata “turbo” sering bikin konsumen awam takut: boros, panas, ribet. Tapi teknologi sekarang sudah jauh berbeda.
Dulu turbo seperti Mitsubishi Evo baru terasa di 3.500–4.000 rpm. Bawahnya kosong, atasnya brutal. Itu yang dikenal sebagai turbo lag.
Sekarang, mesin 1.5 turbo direct injection bekerja lebih cerdas:
- Turbo mulai membantu sejak sekitar 2.000 rpm.
- ECU membaca beban, tanjakan, dan throttle.
- Tenaga datang halus, bukan meledak tiba-tiba.
- Konsumsi tetap efisien karena turbo tidak selalu aktif penuh.
Ditambah sistem water-to-air intercooler yang menjaga suhu udara tetap dingin. Udara dingin berarti tenaga stabil dan mesin tidak kerja berat.
“Musuh turbo itu panas. Kalau anginnya dingin, mesinnya enteng, bensinnya juga enteng,” jelas Rifat.
Artinya, turbo modern bukan lagi soal kejar kencang, tapi soal efisiensi dan kenyamanan harian.
Soal perawatan? Tidak ada perlakuan khusus seperti turbo timer zaman dulu. Sistem pendinginan dan kontrol elektronik sudah membuat mesin “merawat dirinya sendiri”.
CVT Generasi Baru, Cocok untuk Macet Jakarta
Destinator memakai transmisi CVT, yang sering dianggap lemah atau membosankan. Padahal CVT sekarang sudah generasi lanjut. Dengan keunggulan diantaranya:
- Gesekan minim → lebih irit.
- Perpindahan halus → nyaman di macet.
- Kontrol elektronik membaca tanjakan, turunan, dan beban.
- Bisa menahan rasio saat perlu engine brake.
- Terintegrasi dengan drive mode, throttle, traction control, hingga steering angle.
“CVT sekarang itu pintar. Dia tahu kapan harus tahan, kapan harus lepas. Bukan CVT polos seperti skuter,” kata Rifat.
Untuk mobil keluarga bermesin kecil-menengah, CVT justru jadi pilihan logis karena efisiensi dan kenyamanan lebih terasa dibanding transmisi konvensional.
Omotenashi: Fitur yang Ramah Pengguna
Mitsubishi mengembangkan filosofi Omotenashi—hospitality khas Jepang—yang bukan soal gimmick, tapi kenyamanan pengguna.
Artinya:
- Layout kabin mudah dipahami.
- Fitur tidak bikin ribet.
- Posisi duduk nyaman.
- Akses barang praktis.
- Semua terasa “melayani” pengemudi.
Inilah yang membuat Destinator terasa tidak melelahkan, baik untuk wanita karier, ibu antar anak, maupun keluarga yang sering bepergian.
Bukan Sekadar SUV, Tapi Partner Aktivitas
Tren SUV di Indonesia bukan lagi soal besar atau gagah, tapi soal mudah dipakai, efisien, dan bikin percaya diri. Destinator menjawab itu lewat desain ramping-tinggi, mesin turbo modern yang halus, CVT pintar, serta kabin ramah keluarga.
SUV sekarang bukan kendaraan yang menakutkan, tapi partner aktivitas harian—untuk kerja, belanja, antar anak, hingga liburan tanpa drama.



