Harga BBM Kembali Naik Usai Serangan ke Iran, Minyak Dunia Melonjak 8% dalam Hitungan Hari
Moveroad – Kenaikan harga bahan bakar yang sempat memberi angin segar bagi pengendara kini terancam sirna. Ketika harga bensin di Amerika Serikat baru saja turun di bawah USD 3 per galon, eskalasi konflik di Timur Tengah justru mendorong harga minyak dunia kembali merangkak naik tajam.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah global melonjak lebih dari 8%, memicu kekhawatiran bahwa konsumen akan kembali menghadapi kenaikan harga di pompa bensin.
Akhir pekan lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sekutu AS serta pangkalan militer di kawasan tersebut.
Baca juga: Penjualan Daihatsu Februari 2026 Naik 10%, Sigra hingga Gran Max Jadi Tulang Punggung
Salah satu target yang dilaporkan terdampak adalah fasilitas kilang Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi. Meski dua drone berhasil dicegat, serpihan menyebabkan kebakaran terbatas dan fasilitas sempat ditutup sementara. Penutupan ini menjadi sinyal awal potensi gangguan pasokan minyak global.
Pasar langsung merespons cepat. Harga West Texas Intermediate (WTI) yang pada 27 Februari masih berada di kisaran USD 65,34 per barel, kini melonjak ke USD 70,78. Bahkan sempat menyentuh puncak harian di USD 73,06 sebelum terkoreksi tipis.
Lonjakan lebih dari 8% dalam hitungan hari ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Dalam industri energi, pergerakan tajam seperti ini biasanya langsung berdampak pada harga ritel bahan bakar.
Mengutip laporan NBC, setiap kenaikan USD 1 pada harga minyak mentah umumnya mendorong kenaikan sekitar 2,5 sen per galon di tingkat ritel. Dengan kenaikan lebih dari USD 5 per barel, konsumen diperkirakan akan membayar tambahan sekitar 20 sen per galon dalam waktu dekat.
Efek Ganda: Musim Panas dan Konflik
Sebelum konflik pecah, harga bensin sebenarnya sudah diprediksi naik karena kilang-kilang bersiap beralih ke campuran musim panas (summer blend) yang mengandung aditif lebih mahal untuk mengurangi penguapan saat cuaca hangat.
Artinya, konsumen kini menghadapi tekanan ganda: kenaikan musiman dan dampak geopolitik.
Rata-rata harga nasional bensin saat ini berada di USD 2,997 per galon—turun dari USD 3,098 pada periode yang sama tahun lalu. Namun tren penurunan tersebut berpotensi berbalik arah jika ketegangan terus meningkat.
Ancaman di Selat Hormuz
Meskipun Iran hanya menyuplai kurang dari 5% produksi minyak dunia, posisinya sangat strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak global.
Strait of Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam distribusi energi dunia. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa meluas secara global.
Laporan menyebutkan tiga kapal telah diserang dan pihak Iran dikabarkan menyatakan jalur tersebut ditutup. Situasi ini membuat perusahaan asuransi waspada. Premi pengiriman kapal tanker melonjak tajam, bahkan polis untuk kapal senilai USD 100 juta disebut bisa naik USD 125.000 per perjalanan.
Kenaikan biaya logistik tersebut pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen dalam bentuk harga energi yang lebih tinggi.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia?
Meski artikel ini menyoroti harga bensin di Amerika Serikat, lonjakan harga minyak mentah global tetap memiliki implikasi luas, termasuk bagi negara importir energi seperti Indonesia.
Jika harga minyak mentah bertahan di atas USD 70 per barel atau bahkan kembali mendekati USD 80, tekanan terhadap subsidi energi dan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri bisa meningkat.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah: seberapa lama ketegangan ini akan berlangsung?
Jika konflik terus berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada distribusi minyak melalui Selat Hormuz, pasar energi global berpotensi tetap bergejolak dalam beberapa pekan ke depan. Investor, pelaku industri otomotif, hingga konsumen kini menunggu kepastian di tengah ketidakpastian geopolitik.
Bagi pengendara, satu hal yang pasti: momentum harga bensin di bawah USD 3 per galon mungkin hanya bertahan sesaat.



