Human Error Penghambat Barang Terlambat, Pemerintah akan Sertifikasi Driver Logistik, Disambut Baik Pengusaha

Moveroad.id – Memiliki peranan penting dalam roda bisnis logistik di Indonesia, driver salah satu Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang tersebut harus disertifikasi.
Plt Asisten Deputi Pengembangan Logistik Kemenko Perekonomian RI, Ekko Harjanto, menyatakan hal itu dalam Fuso Talkshow yang diselenggarakan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) di GIIcomvec 2026 JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026).
Ekko mengatakan ASEAN sedang menyusun kualifikasi untuk tenaga kerja di bidang logistik, semuanya termasuk driver.Menurut Ekko level sertifikasi tenaga kerja bidang logistik ada level 1 sampai level 8. “Driver ini ada di level 2,” kata Ekko.
Ekko menegaskan jangan melihat driver dari posisi levelnya, tapi nanti kualifikasinya harus memenuhi standar yang nantinya akan disepakati di level ASEAN.”Nanti ketika disepakati di ASEAN, tentunya sertifikasinya untuk nasional akan kerja sama dengan Kemenhub dan Kementerian Tenaga Kerja,” katanya.
Driver, lanjut Ekko, memegang posisi yang penting. Kata dia, secanggih apapun kendaraannya khususnya untuk kendaraan transportasi logistik, tapi selama ini yang jadi penghambat barang terlambat sampai itu kebanyakan masih human error. “Salah satunya kan driver,” ungkap Ekko.
Karenanya, Ekko menyatakan harus ada standarisasi untuk para driver agar mereka disiplin sehingga efisiensi di transportasi darat bisa tercapai.
Menyikapi sertifikasi terhadap SDM di bidang logistik, Chief Executive Officer (CEO) PT Tako Anugerah Korporasi, Melky Tako, menyambut baik.
“Wah ini jadi buat kita jadi PR besar, terima kasih bapak (Deputi) kasih spion kami, pulang dari tempat ini saya akan sertifikasi semua SDM saya, karena memang penting, kami mengerti, sumber daya kami harus terus di-upgrade,” ucap Melky.
Melky menuturkan sumber daya manusia di driver, perusahaan harus mempunyai pola yang baik, pola yang tepat menanganinya. “Bagus sekali kalau ada bisa dilakukan sertifikasi,” ungkapnya.
Melky melalui perusahaannya juga berusaha merubah pandangan orang yang melihat posisi driver di stratanya kurang baik.
“Tapi saya mencoba mengubah pola itu bahwa driver adalah aset. Kalian adalah aset perusahaan. Kalian juga berhak menerima semua hal-hal yang benefit-benefit sebagai seorang driver. Dari sinilah kami mulai membina,” tuturnya.
Diakui Melky merubah mindset itu tidak mudah karena memang untuk mengisi posisi driver tidak perlu pendidikan yang cukup tinggi.
“Tetapi mereka kita latih skill bagaimana cara mengemudi yang baik, bagaimana bekerja dengan mengutamakan K3, keselamatan kerja dan sebagainya. Itu lah yang kita punya PR dari sisi pengusaha logistik untuk memberikan efisiensi supaya mobil kami ready, tenaga driver kami ready, kemanapun mau minta, jam berapapun kami bisa melayani,” ujarnya.
“Disitu lah efisiensi kami akan terjadi pelanggan puas, kami happy, dan tentunya ordernya Mitsubishi tambah ramai, beli mobil terus,” pungkas Melky.



