Mobil

Dampak Kenaikan BBM: Orang Kaya Beralih ke Mobil Listrik

Moveroad.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali mengguncang pasar otomotif nasional. Di tengah lonjakan harga energi global, tren pergeseran preferensi konsumen mulai terlihat, khususnya di kalangan menengah ke atas yang kini melirik kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, dilansir Antara Senin (20/4), menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi mendorong akselerasi adopsi mobil listrik atau electric vehicle (EV), terutama bagi konsumen premium yang selama ini menggunakan bahan bakar dengan oktan tinggi.

“Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengkonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex, memang ada kecenderungan beralih ke mobil listrik,” ujarnya di Jakarta.

Kebijakan penyesuaian harga BBM yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) per 18 April 2026 menjadi pemicu utama perubahan ini. Harga Pertamax Turbo melonjak signifikan menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara itu, Dexlite kini dibanderol Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp23.900 per liter.

Kenaikan tajam ini tidak lepas dari dinamika global, termasuk lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel. Kondisi tersebut turut memberi tekanan pada biaya energi domestik yang akhirnya berdampak langsung ke konsumen.

Di tengah situasi ini, kendaraan listrik mulai dilihat sebagai alternatif rasional. Selain lebih hemat dalam jangka panjang, EV juga menawarkan efisiensi energi yang lebih tinggi serta biaya operasional yang relatif stabil dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

Namun demikian, Bhima menekankan bahwa pergeseran ini belum merata di seluruh lapisan masyarakat. Untuk segmen menengah, keputusan beralih ke EV masih dipenuhi berbagai pertimbangan, terutama terkait harga kendaraan yang masih relatif tinggi.

Gangguan rantai pasok global, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, turut berdampak pada biaya produksi komponen kendaraan listrik. Hal ini menyebabkan harga EV mengalami penyesuaian, sehingga semakin memperlebar jarak keterjangkauan bagi konsumen menengah.

Selain itu, faktor insentif pemerintah yang mulai berkurang pada 2026 juga menjadi variabel penting. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang agresif mendorong adopsi EV melalui berbagai stimulus, tahun ini menunjukkan adanya penyesuaian kebijakan yang membuat konsumen semakin selektif.

“Setiap kelompok masyarakat memiliki perilaku konsumsi yang berbeda terhadap EV,” tambah Bhima.

Sementara itu, pemerintah masih mempertahankan harga BBM tertentu seperti Pertamax (RON 92) di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter. Untuk BBM subsidi, harga Pertalite tetap di Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar berada di angka Rp6.800 per liter.

Melihat dinamika ini, peta persaingan industri otomotif berpotensi mengalami perubahan signifikan. Jika tren ini berlanjut, produsen kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk memperluas pasar, khususnya di segmen premium yang semakin sensitif terhadap biaya operasional.

Pada akhirnya, kenaikan harga BBM bukan hanya soal beban biaya, tetapi juga menjadi katalis perubahan menuju era elektrifikasi kendaraan di Indonesia—meski adopsinya tetap akan berjalan bertahap, mengikuti kesiapan ekonomi dan ekosistem pendukungnya.

Related Articles

Back to top button