Mobil

Suzuki Mulai Atur Strategi, Bukan Sekedar Cuap Teknologi Elektrifikasi Ini Buktinya

Moveroad.id – Suzuki menyiapkan strategi teknologi untuk satu dekade ke depan dengan pendekatan multi-jalur. Tidak hanya mengembangkan mobil listrik murni, pabrikan Jepang tersebut juga menyiapkan teknologi mild hybrid, Series HEV, hingga range extender electric vehicle (REEV) Light yang memungkinkan mobil menggunakan mesin pembakaran sebagai generator.

Strategi tersebut menjadi bagian dari rencana Suzuki untuk mempercepat pengembangan kendaraan elektrifikasi sekaligus mempertahankan keunggulan utama mereka dalam menghasilkan kendaraan dengan bobot ringan.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah evolusi sistem e-Axle 3-in-1 yang digunakan pada Suzuki e Sky, mobil listrik kei. Sistem tersebut nantinya dikembangkan menjadi unit modular 6-in-1 dengan dimensi yang sama.

Baca juga: Suzuki Siapkan 4 Teknologi Hybrid, dari 48V hingga Plug-in Bertenaga 174 HP

Konsep modular ini memungkinkan teknologi digunakan pada berbagai jenis kendaraan, baik battery electric vehicle (BEV) maupun hybrid electric vehicle (HEV). Suzuki menyebut pendekatan tersebut sebagai “Right x Light Mobile Tech”.

Untuk model yang lebih besar, sistem e-Axle juga akan tersedia dalam versi yang dimensinya sekitar 10 persen lebih besar. Teknologi tersebut ditujukan untuk kendaraan subkompak, kompak, hingga kelas menengah.

Motor Listrik hingga 177 PS

Pada Suzuki e Sky, motor listrik depan menghasilkan tenaga 94 hp atau sekitar 70 kW, sementara varian dengan sistem penggerak empat roda mendapatkan tambahan motor listrik belakang berdaya 13 hp atau 10 kW.

Untuk model yang lebih besar, Suzuki menyiapkan e-Axle dengan tenaga hingga 174 hp atau 130 kW, sementara sistem e-4WD di bagian belakang dapat menggunakan motor listrik berdaya 40 hp atau 30 kW.

Suzuki juga menargetkan motor listrik buatannya tidak menggunakan Heavy Rare Earths. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung kemudahan proses daur ulang sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material tertentu.

Hybrid Jadi Jembatan Menuju REEV

Suzuki tidak hanya mengandalkan BEV dalam strategi elektrifikasinya. Untuk model-model berukuran kecil, perusahaan menyiapkan sistem mild hybrid yang ditargetkan mampu memangkas emisi karbon hingga 15 persen.

Angka tersebut setara dengan pengurangan sekitar 150 kg CO2 untuk setiap jarak tempuh 10.000 km.

Di atasnya terdapat teknologi Series HEV yang ditargetkan mampu mengurangi emisi hingga 29 persen atau sekitar 300 kg CO2 untuk setiap 10.000 km.

Yang menarik, pada sistem Series HEV tersebut mesin pembakaran internal tidak secara langsung menjadi penggerak roda. Mesin bekerja sebagai generator untuk menghasilkan listrik, sementara penggerak utama kendaraan menggunakan motor listrik.

Konsep tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi REEV Light dengan menambahkan kemampuan pengisian daya eksternal serta baterai berukuran lebih sesuai kebutuhan.

Suzuki menyebut teknologi tersebut tidak membutuhkan baterai berkapasitas terlalu besar seperti BEV. Pendekatan ini juga ditujukan untuk mengurangi kekhawatiran konsumen terhadap jarak tempuh.

Di India, model seperti Baleno dan Fronx disebut berpotensi menjadi kandidat awal untuk menggunakan sistem Series HEV tersebut. Model lain seperti S-Cross, Vitara, Grand Vitara, dan Victoris juga disebut sebagai kandidat potensial.

Mesin Turbo Baru Tetap Dikembangkan

Di tengah pengembangan kendaraan elektrifikasi, Suzuki masih mempertahankan pengembangan mesin pembakaran internal.

Suzuki tengah mengembangkan mesin bensin Direct Injection Turbocharged baru untuk sejumlah pasar, termasuk India. Mesin tersebut juga berpotensi dikembangkan dalam konfigurasi yang kompatibel dengan bahan bakar CNG.

Target Suzuki cukup ambisius. Efisiensi termal mesin pembakaran ditargetkan meningkat dari sekitar 40 persen pada mesin 1,2 liter tiga silinder Z12E saat ini menjadi 50 persen pada mesin generasi mendatang.

Peningkatan tersebut akan ditempuh melalui sejumlah teknologi, termasuk pembakaran lean dengan EGR tinggi, pemanfaatan kembali panas buang, pelumas dengan viskositas rendah, material nano-karbon, serta pengembangan operasi siklus Miller.

Bobot Mobil Ditargetkan Turun hingga 120 Kg

Selain sistem penggerak, bobot kendaraan tetap menjadi perhatian utama Suzuki.

Peraturan keselamatan dan emisi yang semakin ketat diperkirakan akan menambah bobot kendaraan hingga sekitar 80 kg mulai 2030 dan seterusnya. Untuk mengimbanginya, Suzuki menargetkan pengurangan bobot antara 100–120 kg pada setiap kendaraan tanpa mengorbankan aspek keselamatan.

Program tersebut dikembangkan melalui strategi “S Light”.

Salah satu contohnya adalah penggunaan baut M8 dengan kepala yang lebih kecil. Meskipun penghematan bobotnya hanya sekitar 1 gram per baut, jumlah pengencang pada satu kendaraan bisa mencapai lebih dari 2.000 unit.

Suzuki juga akan menggunakan baja ultra-high-tensile berkekuatan 1.470 MPa pada bagian kendaraan yang memiliki fungsi penting dalam perlindungan ketika terjadi kecelakaan.

Pengembangan Mobil Dipangkas Menjadi 24 Bulan

Strategi Suzuki tidak berhenti pada teknologi kendaraan. Pabrikan tersebut juga ingin mempercepat proses pengembangan produk.

Suzuki menargetkan waktu pengembangan kendaraan dapat dipangkas hingga 24 bulan pada 2030, atau sekitar setengah dari durasi sebelumnya.

Untuk mencapai target tersebut, Suzuki akan meningkatkan efisiensi pengembangan hingga 30 persen dan efisiensi produksi hingga 50 persen di fasilitas Manesar, India.

Digitalisasi serta penggunaan komponen modular menjadi bagian dari strategi tersebut.

Suzuki juga memperkenalkan konsep “SDV Lite”, yakni pendekatan Software-Defined Vehicle dengan arsitektur yang lebih sederhana.

Mulai 2031, Suzuki menargetkan penggunaan Central Zone ECU yang diklaim dapat memangkas biaya elektronik hingga 30 persen sekaligus mengurangi bobot modul elektronik sekitar 15 persen.

Kapasitas Produksi India Ditargetkan 4 Juta Unit

India juga memegang peran penting dalam strategi global Suzuki. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi tahunannya di India meningkat menjadi 4 juta unit pada 2030.

Rangkaian strategi tersebut menunjukkan Suzuki tidak memilih satu jalur teknologi untuk menghadapi perubahan industri otomotif. BEV, hybrid, REEV, maupun mesin pembakaran internal tetap dikembangkan secara paralel dengan pendekatan modular dan efisiensi bobot sebagai benang merah.

Bagi Suzuki, elektrifikasi bukan semata-mata soal mengganti mesin bensin dengan motor listrik. Pabrikan ini juga mencoba mengembangkan kombinasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan, ukuran baterai, karakter pasar, serta efisiensi produksi.

Related Articles

Back to top button