Motor

Ngantuk Saat Berkendara Jangan Dilawan Kopi, Pelajar Tangerang Diedukasi Cari Aman

Moveroad.id – Rasa kantuk yang muncul saat berkendara bukan sekadar gangguan kecil yang bisa diatasi dengan secangkir kopi. Justru, kondisi tersebut merupakan sinyal dari tubuh bahwa pengendara membutuhkan istirahat.

Pesan tersebut menjadi salah satu materi utama dalam edukasi keselamatan berkendara yang diikuti sekitar 150 pelajar SMK se-Tangerang di Safety Riding Center Wahana Makmur Sejati (SRC WMS), Senin (28/9).

Mengusung tema “Secangkir Kopi Sejuta Mimpi”, kegiatan yang digelar PT Wahana Makmur Sejati (WMS), Main Dealer sepeda motor Honda untuk wilayah Jakarta-Tangerang, tersebut membahas hubungan antara kondisi fisik, kebiasaan mengonsumsi kopi, dan keselamatan ketika berkendara.

Melalui sesi safety riding, para peserta diajak memahami bahwa kemampuan mengendalikan sepeda motor bukan satu-satunya faktor yang menentukan keselamatan. Kondisi fisik dan mental pengendara sebelum maupun selama perjalanan juga memiliki peran penting.

Baca juga: Penjualan Rocky Hybrid 266 unit, Retail Nasional Daihatsu Nomor 2 

Peserta mendapatkan pemahaman mengenai batas kemampuan tubuh, risiko berkendara dalam kondisi lelah atau mengantuk, hingga pentingnya menerapkan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan di jalan.

Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, mengatakan pengendara perlu memiliki kemampuan untuk mengenali kondisi tubuhnya sendiri.

“Berkendara aman dimulai dari kemampuan kita mengenali kondisi diri sendiri. Ketika tubuh sudah memberikan tanda lelah atau mengantuk, jangan memaksakan diri untuk tetap melanjutkan perjalanan. Berhenti dan beristirahat merupakan pilihan yang jauh lebih aman dibandingkan mengambil risiko di jalan,” ujar Agus.

Kopi Bukan Penentu Kondisi Tubuh

Pembahasan mengenai kopi menjadi bagian menarik dalam kegiatan tersebut. WMS menghadirkan narasumber dari dunia kopi untuk memberikan pemahaman mengenai jenis kopi, manfaat, kekurangan, serta efek konsumsi kopi terhadap tubuh.

Materi ini dikaitkan dengan kebiasaan anak muda yang kerap mengonsumsi kopi untuk menemani aktivitas atau membantu menjaga stamina.

Namun, peserta diingatkan agar tidak menjadikan kopi sebagai tolok ukur apakah tubuh masih cukup fit untuk berkendara.

Ketika rasa kantuk sudah muncul, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan meskipun pengendara sebelumnya telah mengonsumsi kopi. Memaksakan perjalanan dalam kondisi tubuh yang tidak prima justru dapat meningkatkan risiko kehilangan konsentrasi dan terlambat mengambil keputusan.

“Ngopi boleh, tidak dilarang, akan tetapi jangan sampai membuat kita salah memahami kemampuan tubuh. Ketika sudah mengantuk, solusi yang paling aman bukan memaksakan diri untuk tetap berkendara. Kenali kondisi tubuh dan pilih keputusan yang paling aman,” kata Agus.

Dengan pendekatan tersebut, edukasi tidak hanya mengajarkan teknik berkendara, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keputusan untuk berhenti dan beristirahat merupakan bagian dari perilaku berkendara yang aman.

Pelajar Dikenalkan Risiko Kecelakaan

Materi keselamatan lalu lintas turut diperkuat melalui kehadiran Kanit Lantas Polsek Metro Karawaci, Iptu Alex Rusman, S.H., M.M.

Dalam pemaparannya, peserta mendapatkan gambaran mengenai kondisi kecelakaan lalu lintas serta berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.

Para pelajar juga diajak memahami pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas sebagai bentuk tanggung jawab setiap pengguna jalan. Penggunaan perlengkapan berkendara, menjaga konsentrasi, memahami kondisi jalan, hingga menghindari keputusan berisiko menjadi bagian dari materi yang disampaikan.

Artinya, keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh seberapa mahir seseorang mengendalikan sepeda motor. Kesadaran membaca kondisi diri dan lingkungan menjadi bagian penting sebelum maupun ketika perjalanan berlangsung.

Pemahaman Diukur Lewat Pre-test dan Post-test

Untuk mengetahui efektivitas materi yang diberikan, peserta mengikuti pre-test dan post-test. Metode tersebut digunakan untuk melihat perubahan pemahaman peserta mengenai berbagai aspek keselamatan berkendara sebelum dan setelah mengikuti seminar.

Kegiatan juga dilengkapi sesi tanya jawab dan challenge membuat konten media sosial mengenai pengalaman peserta selama mengikuti kegiatan.

Konsep tersebut diharapkan membuat pesan keselamatan tidak berhenti di ruang seminar. Para pelajar juga didorong membagikan pengalaman dan pesan keselamatan kepada teman maupun lingkungan mereka melalui media sosial.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi sharing serta penguatan kampanye #Cari_Aman. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa keselamatan harus menjadi bagian dari kebiasaan ketika menggunakan sepeda motor.

Pada akhirnya, perjalanan yang aman bukan sekadar tentang seberapa cepat sampai tujuan. Lebih penting lagi, pengendara mampu mempersiapkan diri, mengenali batas kemampuan tubuh, membaca situasi, dan mengambil keputusan yang tepat.

Sebab, mimpi besar hanya akan berarti jika pengendaranya juga sampai tujuan dengan selamat.

Related Articles

Back to top button