Impor Kendaraan China Melonjak, Jepang Justru Melandai
Moveroad – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dominasi China dalam struktur impor non-migas Indonesia sepanjang Januari–November 2025 kian menguat. Nilai impor non-migas dari Negeri Tirai Bambu mencapai US$77,52 miliar, setara 41,1% dari total impor non-migas Indonesia pada periode tersebut.
Angka ini menegaskan posisi China sebagai pemasok utama berbagai komoditas strategis, mulai dari mesin industri hingga kendaraan dan komponennya sektor yang belakangan menjadi sorotan seiring agresifnya ekspansi produk otomotif China di pasar domestik.
Kontributor terbesar impor non-migas dari China masih berasal dari sektor mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS84). Komoditas ini menyumbang 22,75% dari total impor non-migas China ke Indonesia, dengan nilai mencapai US$17,63 miliar.
Baca juga: 80 Tahun KIA Dari Warisan Perjalanan Menuju Visi Mobilitas Masa Depan
Di posisi berikutnya, mesin dan perlengkapan elektrik serta komponennya (HS85) mencatat nilai impor sebesar US$16,97 miliar, atau berkontribusi sekitar 16,97% terhadap total impor non-migas dari China.
Kuatnya dua kelompok komoditas ini menunjukkan ketergantungan industri nasional terhadap pasokan mesin dan teknologi manufaktur dari China masih sangat tinggi.
Impor Kendaraan China Terkerek Tajam
Yang menarik, impor kendaraan dan bagiannya dari China melonjak signifikan. Secara cumulative-to-cumulative (c-to-c), nilai impor kendaraan China meningkat 48,56% menjadi US$4,37 miliar sepanjang Januari–November 2025.
Dengan capaian tersebut, kendaraan dan komponen otomotif berkontribusi 5,64% terhadap total impor non-migas China ke Indonesia. Lonjakan ini sejalan dengan semakin masifnya penetrasi merek otomotif China, khususnya kendaraan listrik dan hybrid, di pasar Indonesia.
Jepang: Mesin Masih Kuat, Kendaraan Melemah
Di sisi lain, BPS mencatat impor non-migas dari Jepang mencapai US$13,28 miliar pada periode yang sama. Struktur impor Jepang masih didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS84) dengan pangsa 21,70%, serta mencatat pertumbuhan 5,76% secara c-to-c.
Namun, tren berbeda terlihat pada sektor otomotif. Impor kendaraan dan bagiannya dari Jepang justru menurun 9,22%, meski nilainya masih tergolong besar, yakni US$1,93 miliar atau 14,55% dari total impor non-migas Jepang ke Indonesia.
Baca juga: Geely Siap Luncurkan MPV Premium Pesaing Denza, Galaxy V900
“Impor non-migas dari Jepang mencapai US$13,28 miliar dan didominasi oleh impor mesin dan peralatan mekanis atau HS84 dengan share 21,70% dan tumbuh 5,76% secara c-to-c,” ujar Pudji dalam keterangan resminya.
Perbedaan tren antara China dan Jepang ini mencerminkan pergeseran peta impor otomotif Indonesia. Jika Jepang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung industri otomotif nasional, maka China kini tampil agresif baik dari sisi volume, harga, maupun variasi produk.
Lonjakan impor kendaraan dari China menjadi sinyal kuat bahwa persaingan di pasar otomotif Indonesia tidak lagi hanya soal merek, tetapi juga soal strategi perdagangan dan kecepatan adaptasi teknologi.



