Mobil

BYD Tekuk Label Premium BMW dan Mercy Gegara Perangkat LiDAR

Moveroad.id – Selama ini, teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) dianggap sebagai “barang mewah” yang hanya bisa dinikmati oleh pemilik mobil sultan seharga miliaran rupiah seperti Mercedes-Benz S-Class atau BMW Seri 7. Namun, BYD baru saja menghancurkan stigma tersebut dengan menyematkan sensor canggih ini pada mobil listrik termurah mereka, BYD Seagull (Model Year 2026).

Langkah ini mengejutkan industri otomotif global, mengingat para raksasa Jerman justru mulai kesulitan menekan biaya produksi untuk menyertakan teknologi serupa pada mobil-mobil flagship mereka.

Penyegaran BYD Seagull (yang juga dikenal sebagai Dolphin Mini di beberapa pasar) versi 2026 membawa pembaruan visual seperti warna baru Mango Orange dan Mint Green, serta velg Starlight 16 inci. Namun, bintang utamanya adalah paket bantuan pengemudi DiPilot 300.

Baca juga: Ambisi Gila Geely: Ingin Jadi “Toyota Versi China” di Australia, Siap Gusur Dominasi BYD?

Sistem yang disebut sebagai bagian dari ekosistem “God’s Eye” (Mata Dewa) milik BYD ini mengombinasikan sensor LiDAR dengan radar dan kamera. Secara fisik, Anda bisa mengenali varian ini lewat tonjolan di atap yang menyerupai snorkel udara pada supercar McLaren 675LT.

Mengapa LiDAR begitu penting? Berbeda dengan sistem berbasis kamera milik Tesla, LiDAR dianggap sebagai “standar emas” karena mampu mengukur jarak dengan presisi ekstrem, mendeteksi objek yang tidak menyala di kegelapan total, dan memberikan detail lingkungan yang jauh lebih akurat dibandingkan radar biasa.

Di pasar China, BYD Seagull standar dijual mulai dari ¥69.900 (sekitar $10.300 atau Rp163 juta). Jika Anda ingin menyertakan paket LiDAR DiPilot 300, harganya naik menjadi sekitar ¥90.900 ($13.400 atau Rp213 juta).

Baca juga: Raksasa Mulai Goyah? Penjualan BYD Turun 8 Bulan Berturut-turut, Ekspor Jadi Penyelamat!

Meski biaya tambahannya mencapai sekitar $3.100 (Rp50 juta) angka yang tergolong tinggi untuk mobil kelas ekonomi total harganya tetap jauh lebih murah daripada opsi LiDAR pada mobil mewah Eropa yang bisa mencapai lebih dari $7.000 hanya untuk fiturnya saja.

Apa yang dilakukan BYD adalah anomali yang menakutkan bagi produsen mobil tradisional. Di saat BMW dan Mercedes-Benz sempat menarik fitur Level 3 mereka dari pasar karena biaya dan regulasi yang rumit, BYD justru ‘mendokratiskan’ perangkat keras paling mahal di dunia otonom ke mobil rakyat.

Walaupun DiPilot 300 pada Seagull saat ini masih dikategorikan sebagai sistem Level 2 Advanced (bukan otonom penuh Level 3), kehadiran sensor LiDAR di rentang harga Rp200 juta adalah pernyataan perang. BYD sedang membangun basis data dan infrastruktur teknologi yang suatu saat akan membuat mobil murah mereka bisa menyetir sendiri lebih baik daripada mobil mewah Eropa.”

Meski teknologinya sudah siap, tantangan terbesar BYD adalah membuktikan bahwa perangkat keras semahal LiDAR bisa tetap awet dan efektif pada mobil perkotaan yang sering terpapar panas dan polusi ekstrem. Namun, dengan kecepatan inovasi mereka, jangan terkejut jika dalam 2-3 tahun ke depan, BYD Seagull benar-benar bisa mengantar Anda pulang tanpa perlu menyentuh setir.

Related Articles

Back to top button