Mobil

Negara Ini Berusaha Larang Total Penjualan Mobil China 

Moveroad.id – Langkah proteksionisme di industri otomotif Amerika Serikat berpotensi semakin agresif. Senator Partai Republik, Bernie Moreno, mengumumkan rencana pengajuan undang-undang baru yang bertujuan memperketat larangan terhadap kendaraan asal China—bahkan hingga menutup sepenuhnya akses pasar AS bagi produk otomotif yang memiliki keterkaitan dengan negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan dalam forum otomotif menjelang New York International Auto Show, di mana Moreno menegaskan bahwa regulasi baru tersebut akan mencakup tidak hanya kendaraan utuh, tetapi juga perangkat keras, perangkat lunak, hingga kemitraan teknologi yang berhubungan dengan China.

RUU yang diusulkan ini akan melampaui kebijakan yang diperkenalkan pemerintahan Joe Biden pada Januari 2025. Aturan tersebut sebelumnya telah melarang penjualan mobil penumpang asal China di AS dengan alasan keamanan nasional, khususnya terkait potensi pengumpulan data pengguna.

Baca Juga: Bukan Lintasan Aspal, Mobil China Ini Gunakan Puluhan Kucing Buktikan Sistem Peredam Suara

Moreno ingin memastikan tidak ada celah yang tersisa. Dalam pernyataannya, ia bahkan menyebut ingin “menghilangkan kemungkinan apa pun” bagi mobil China untuk masuk ke pasar Amerika.

Untuk memperkuat argumennya, Moreno membandingkan industri otomotif dengan sektor telekomunikasi, merujuk pada pelarangan terhadap Huawei di infrastruktur AS.

Menurutnya, kendaraan modern yang terhubung secara digital berpotensi menjadi sumber risiko serupa, terutama dalam hal keamanan data dan pengawasan.

Sikap keras ini juga tercermin dari kritik Moreno terhadap kerja sama lintas negara. Ia sebelumnya menyoroti kolaborasi antara Waymo (anak usaha Alphabet Inc.) dengan Geely induk dari brand EV Zeekr dalam pengembangan robotaxi.

Moreno menilai penggunaan kendaraan berbasis China dalam proyek teknologi tinggi AS bertentangan dengan kepentingan strategis nasional.

Dorongan ke Sekutu Global

Tak hanya fokus domestik, Moreno juga mendorong negara-negara sekutu seperti Kanada, Meksiko, Eropa, dan Amerika Latin untuk mengadopsi kebijakan serupa.

Jika dorongan ini diikuti, maka dampaknya bisa sangat besar terhadap ekspansi global produsen otomotif China, yang selama ini agresif menembus pasar internasional, termasuk kendaraan listrik.

RUU ini disebut mendapat dukungan kuat dari pelaku industri otomotif AS dan asosiasi perdagangan. Mereka menilai langkah ini penting untuk melindungi produsen domestik dari persaingan yang dianggap tidak seimbang.

Baca Juga: Mobil China Tak Selamanya Murah, Produsen Mulai Tertekan Perang Harga Jadi Biang Utama

Namun di sisi lain, langkah tersebut memicu kritik keras dari pihak Embassy of China in Washington yang menuduh AS melakukan proteksionisme dan kebijakan diskriminatif.

Menariknya, kebijakan ini muncul di tengah dinamika politik yang kompleks. Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada Mei mendatang. Sebelumnya, Trump sempat membuka peluang bagi produsen China untuk membangun pabrik di AS dengan syarat menyerap tenaga kerja lokal.

Perbedaan pendekatan ini menandakan bahwa arah kebijakan otomotif AS terhadap China masih sangat dinamis dan sarat kepentingan geopolitik.

Jika RUU ini disahkan, dampaknya tidak hanya terasa di Amerika Serikat, tetapi juga pada lanskap industri otomotif global. Produsen China bisa kehilangan salah satu pasar terbesar dunia, sementara negara lain mungkin terdorong untuk mengambil posisi serupa.

Di tengah percepatan elektrifikasi dan digitalisasi kendaraan, isu keamanan data kini menjadi faktor kunci—bukan hanya teknologi atau harga.

Ke depan, persaingan industri otomotif tidak lagi sekadar soal produk, tetapi juga soal geopolitik dan kedaulatan teknologi.

Related Articles

Back to top button