Honda Evaluasi Strategi EV, CEO Toshihiro Mibe Didesak Mundur
Moveroad.id – Pertarungan terbesar Honda belakangan ini ternyata bukan terjadi di lintasan balap atau pasar otomotif global, melainkan di ruang rapat perusahaan. Di tengah perubahan besar strategi elektrifikasi dan tekanan kinerja bisnis, CEO Honda Toshihiro Mibe dikabarkan menghadapi kritik serius dari sejumlah mantan petinggi perusahaan yang mempertanyakan arah kepemimpinannya.
Situasi tersebut muncul setelah Honda memutuskan untuk meninjau ulang ambisi kendaraan listriknya, membatalkan beberapa program EV yang telah direncanakan, serta mencatatkan kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun terakhir.
Perkembangan ini menandai salah satu periode paling menantang bagi pabrikan asal Jepang tersebut dalam menghadapi transisi industri otomotif menuju era elektrifikasi.
Mantan Eksekutif Honda Kritik Kepemimpinan Toshihiro Mibe
Berdasarkan laporan Reuters, sejumlah mantan eksekutif senior Honda mengadakan pertemuan pada akhir tahun lalu untuk membahas berbagai kekhawatiran terkait arah perusahaan di bawah kepemimpinan Toshihiro Mibe.
Baca Juga: Tekanan Ganda di Asia Tenggara: Mengapa Penjualan Honda Anjlok Tajam di Indonesia dan Singapura?
Dalam diskusi tersebut, muncul sejumlah kritik yang berkaitan dengan posisi Honda yang dinilai semakin tertekan di pasar China hingga keputusan strategis perusahaan yang dianggap kurang tepat.
Beberapa pihak juga menyoroti pengeluaran Honda untuk berbagai aktivitas sponsorship olahraga yang dianggap tidak memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan bisnis perusahaan.
Menurut dokumen internal yang ditinjau Reuters, kelompok tersebut menilai Mibe mulai kehilangan kedekatan dengan kebutuhan konsumen dan kurang mendengarkan masukan pasar.
Bahkan, sejumlah komentar publik yang pernah disampaikan Mibe disebut turut memengaruhi moral karyawan di dalam perusahaan.
Laporan itu juga menyebut mantan CEO Honda, Nobuhiko Kawamoto, sempat bertemu langsung dengan Mibe pada April lalu dan menyarankan agar ia mengundurkan diri.
Namun hingga saat ini, Toshihiro Mibe tetap menjabat sebagai Chief Executive Officer Honda.
Honda Evaluasi Strategi EV di Tengah Perubahan Pasar
Tekanan terhadap manajemen datang pada saat Honda tengah melakukan penyesuaian besar terhadap strategi jangka panjangnya.
Sebelumnya, Honda menargetkan menjadi produsen kendaraan listrik sepenuhnya pada tahun 2040. Namun perkembangan pasar global, perlambatan permintaan EV di sejumlah wilayah, serta tantangan profitabilitas membuat perusahaan mengambil pendekatan yang lebih fleksibel.
Honda kini dikabarkan telah membatalkan tiga program kendaraan listrik yang sebelumnya masuk dalam rencana pengembangan produk.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa produsen otomotif global mulai mengadopsi strategi yang lebih realistis dengan mempertahankan teknologi hybrid sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh.
Bagi Honda, keputusan tersebut bukan sekadar perubahan arah produk, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, regulasi emisi, dan profitabilitas perusahaan.
Kerugian Tahunan Pertama dalam Hampir 70 Tahun
Tekanan terhadap Honda semakin besar setelah perusahaan melaporkan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir tujuh dekade.
Sebagai bentuk tanggung jawab manajemen, Toshihiro Mibe dilaporkan menerima pemotongan gaji sebesar 30 persen.
Meskipun Honda belum kehilangan posisi sebagai salah satu produsen otomotif terbesar dunia, hasil keuangan tersebut menjadi peringatan bahwa transformasi menuju era kendaraan listrik tidak selalu berjalan mulus.
Banyak produsen global saat ini menghadapi tantangan serupa, terutama terkait biaya investasi teknologi baru yang sangat besar serta ketidakpastian permintaan pasar.
Honda Odyssey dan HR-V Bertahan Lebih Lama
Dampak dari perubahan strategi ini mulai terlihat pada portofolio produk Honda.
Salah satu keputusan penting adalah mempertahankan produksi Honda Odyssey hingga Maret 2030 sebelum akhirnya digantikan model baru.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Honda masih melihat permintaan yang kuat terhadap kendaraan keluarga bermesin konvensional maupun hybrid.
Selain Odyssey, Honda HR-V juga diperkirakan akan memiliki siklus hidup yang lebih panjang dibandingkan rencana sebelumnya.
Langkah ini memberi sinyal bahwa Honda belum ingin terburu-buru meninggalkan model-model yang masih memiliki basis pelanggan kuat di berbagai pasar global.
Accord Bersiap Menuju Era Hybrid
Sementara itu, Honda Accord disebut tengah dipersiapkan untuk menerima pembaruan besar dalam beberapa tahun mendatang.
Perubahan tersebut mencakup penyegaran desain yang lebih modern dan agresif, meskipun untuk sementara masih akan mempertahankan pilihan mesin yang ada saat ini.
Dalam jangka panjang, Honda diperkirakan akan mengarahkan Accord menjadi model yang hanya tersedia dalam varian hybrid sekitar tahun 2030.
Strategi tersebut mencerminkan pendekatan baru Honda yang lebih fokus pada elektrifikasi bertahap dibandingkan transformasi penuh ke kendaraan listrik murni.
Honda Kembangkan Mesin V6 Hybrid Generasi Baru
Di tengah penyesuaian strategi EV, Honda juga tengah mengembangkan mesin V6 baru yang akan dipadukan dengan teknologi hybrid.
Powertrain tersebut dirancang untuk menghadirkan performa yang lebih kuat sekaligus kapasitas towing yang lebih besar dibandingkan mesin-mesin berkapasitas kecil yang saat ini banyak digunakan industri otomotif.
Menariknya, Honda tidak menjadikan tenaga besar sebagai fokus utama.
Sebaliknya, perusahaan lebih menitikberatkan pada efisiensi bahan bakar dengan target peningkatan konsumsi energi sekitar 30 persen dibandingkan teknologi sebelumnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Honda melihat masa depan otomotif bukan hanya soal elektrifikasi, tetapi juga optimalisasi berbagai teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen secara lebih realistis.
Masa Depan Honda Ditentukan oleh Dua Tantangan Besar
Saat ini Honda menghadapi dua tantangan yang sama pentingnya.
Pertama adalah menentukan seperti apa produk-produk masa depan yang mampu menjawab kebutuhan pasar global yang terus berubah.
Kedua adalah memastikan kepemimpinan perusahaan tetap stabil untuk menjalankan transformasi tersebut.
Di tengah tekanan internal, evaluasi strategi kendaraan listrik, dan perubahan lanskap industri otomotif dunia, Honda berada pada titik penting yang akan menentukan arah perusahaan dalam satu dekade ke depan.



