Gara-gara Aturannya China, AS Resmi Larang Penjualan Mobil Listrik Polestar
Moveroad.id Lanskap industri kendaraan listrik (Electric Vehicle) global kembali diguncang oleh keputusan regulasi perdagangan yang agresif dari otoritas Amerika Serikat. Produsen EV premium, Polestar, dipastikan tidak lagi diizinkan untuk menjual unit kendaraan baru di pasar domestik Amerika Serikat melampaui model tahun 2027 (2027 model year). Biro Industri dan Keamanan (BIS) di bawah Kementerian Perdagangan Amerika Serikat secara resmi menolak memberikan izin kliring operasional yang dibutuhkan oleh pabrikan tersebut untuk melanjutkan aktivitas bisnisnya di AS.
Dasar hukum yang memicu pengusiran massal produk Polestar ini adalah Connected Vehicle Rule (Aturan Kendaraan Terkoneksi). Kebijakan ketat ini melarang keras peredaran kendaraan yang mengintegrasikan perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) sistem konektivitas yang dikembangkan atau terafiliasi dengan negara China dan Rusia atas dasar risiko keamanan nasional. Mengingat raksasa otomotif asal Tiongkok, Geely, memegang porsi kepemilikan saham mayoritas di Polestar, merek ini secara otomatis langsung terkena dampak pemblokiran tersebut tanpa celah kompromi.
Langkah proteksionisme yang dimatangkan sejak pemerintahan Joe Biden dan dieksekusi secara agresif oleh pemerintahan Donald Trump ini didasari atas kekhawatiran terhadap pengumpulan data massal (data mining) secara ilegal. Washington mengkhawatirkan mobil-mobil modern yang memiliki konektivitas internet tinggi dapat disalahgunakan oleh Beijing untuk mengirimkan data sensitif pengguna ke luar negeri, atau bahkan dikendalikan dari jarak jauh (remote access access) yang dapat mengancam keselamatan publik di jalan raya AS.
Aturan pembatasan ini berjalan dalam dua fase linier. Batasan untuk sektor perangkat lunak (software) berlaku efektif pada model tahun 2027, sementara larangan untuk sektor perangkat keras (hardware) akan menyusul pada tahun 2030.
Menariknya, regulasi ini menciptakan standar ganda di dalam lingkaran internal grup perusahaan. Volvo, yang juga berada di bawah naungan kepemilikan Geely, justru berhasil mengamankan pengecualian khusus (waiver) dari pemerintah AS pada Mei 2026. Perbedaan nasib ini mempertegas bahwa Polestar gagal meyakinkan otoritas AS mengenai pemisahan kode pemrograman (source code) digitalnya dari pengaruh arsitektur teknologi China, tidak seperti saudaranya dari Swedia tersebut.
Pukulan paling telak dari keputusan Washington ini menghantam langsung program lokalisasi manufaktur Polestar di dalam negeri Amerika Serikat. Sejak tahun 2024, Polestar telah mengucurkan investasi besar untuk merakit model SUV premium Polestar 3 di pabrik perakitan yang berlokasi di South Carolina. Komoditas rakitan lokal ini awalnya diproyeksikan untuk menghindari hambatan tarif impor dan melayani kebutuhan pasar domestik AS, sekaligus diekspor ke kawasan Eropa.
Dengan diblokirnya hak dagang Polestar, masa depan operasional pabrik perakitan di South Carolina kini berada dalam ketidakpastian yang tinggi. Kendati pihak manajemen berjanji akan tetap mempertahankan operasional bengkel servis resmi dan menjamin ketersediaan suku cadang bagi konsumen yang terlanjur membeli unit Polestar 3 dan Polestar 4 di AS, hilangnya hak untuk menjual mobil baru diprediksi akan meruntuhkan nilai jual kembali (resale value) kendaraan serta menurunkan drastis minat beli konsumen tersisa terhadap sisa stok inventaris yang ada di diler saat ini.
Pivot Strategis Global: Meninggalkan Amerika, Menatap Eropa dan Asia Tenggara
Menghadapi tembok tebal birokrasi Amerika Serikat, manajemen Polestar memilih langkah realistis dengan tidak melakukan upaya banding atau gugatan hukum di pengadilan AS. Berdasarkan evaluasi laporan keuangan internal perusahaan, pasar Amerika Serikat rupanya bukan menjadi lumbung pendapatan utama bagi kas korporasi. Pada kuartal pertama (Q1) tahun 2026, tercatat sebanyak 94 persen dari total volume penjualan retail Polestar didapatkan dari luar wilayah Amerika Serikat.
Menghentikan kampanye pemasaran di Amerika Serikat dan memfokuskan sisa waktu untuk menghabiskan unit inventaris model tahun 2025-2026. Meningkatkan kapasitas produksi regional di benua Eropa dan mempercepat cetak biru peluncuran produk masa depan, Polestar 7, langsung dari pabrik Eropa. Mengalihkan fokus suplai unit kendaraan ke area pertumbuhan baru yang netral secara politik, seperti Asia Tenggara, Eropa Timur, Amerika Latin, dan Kanada.
CEO Polestar, Michael Lohscheller, menegaskan bahwa industri otomotif global kini telah bergeser dari era globalisasi terbuka menuju era baru yang didikte oleh sentimen dan dinamika politik regional.
“Industri otomotif sedang memasuki fase baru yang didasarkan pada dinamika regional. Strategi kami mencerminkan hal tersebut, dengan Eropa menjadi mesin pertumbuhan terbesar kami dan rencana kami untuk memproduksi Polestar 7 di Eropa. Rekor penjualan kami pada tahun 2025 dan kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa kami membuat kemajuan yang kuat, dengan beberapa peluncuran pasar baru yang terjadi di Eropa tahun ini. Selain itu, kami akan terus berinvestasi di pasar-pasar di mana kami memiliki peluang untuk terus tumbuh, seperti Asia Tenggara, Eropa Timur, Amerika Latin, dan Kanada,” ungkap Michael Lohscheller dalam pidato arah kebijakan korporatnya.
Kasus pemblokiran Polestar oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat merupakan preseden krusial yang membuktikan bahwa perang dagang teknologi masa kini tidak lagi sekadar berkutat pada pengenaan tarif bea masuk tinggi, melainkan sudah menyentuh aspek kedaulatan kode siber (software sovereignty). Aturan Connected Vehicle Rule telah berhasil mendepak Polestar dari AS terlepas dari adanya investasi pabrik lokal mereka di South Carolina.



