Robot Humanoid Mulai Masuk Pabrik Mobil, Kinerja Disebut Masih Kalah Cepat dari Manusia
Moveroad.id – Penggunaan robot berbentuk manusia (humanoid) digadang-gadang akan merevolusi proses manufaktur otomotif global dengan menggantikan pekerjaan berulang tanpa jeda istirahat. Namun, penerapan di lapangan menunjukkan bahwa teknologi ini masih menghadapi tantangan efisiensi, terutama dalam hal kecepatan kerja.
Produsen otomotif asal Jerman, BMW, mengakui bahwa robot humanoid yang sedang diuji coba di pabrik Spartanburg, Carolina Selatan, AS, kinerjanya masih lebih lambat dibandingkan pekerja manusia.
Robot buatan Figure AI tersebut diuji coba untuk memindahkan komponen dari wadah penyimpanan ke dalam troli perakitan. Meski mampu berjalan, mengambil suku cadang, dan menarik troli, ritme kerjanya belum mampu menyamai kecepatan pekerja manusia.
Baca Juga: Sambut GIIAS Surabaya 2026, VinFast Bawa Ekosistem EV Lengkap dan Jaminan ‘Drive Worry Free’
VP Logistics BMW, Ulrich Wieland, membenarkan kendala operasional tersebut.
“Robot humanoid ini memang masih lebih lambat daripada manusia, tetapi proses pengembangannya bergerak sangat cepat,” ujar Ulrich Wieland.
Tesla, Mercedes-Benz, dan Hyundai Dorong Adopsi Robotik
Meski efisiensinya masih diuji, produsen otomotif global terus menginvestasikan sumber daya dalam pengujian robotik. Produsen Tesla, Memiliki ambisi besar melalui robot Optimus. Elon Musk bahkan menghentikan produksi Model S dan Model X di sebagian area pabrik California untuk mengalokasikan ruang bagi manufaktur Optimus.
Sedangkan produsen Mercedes-Benz, ,enguji coba robot humanoid buatan Apptronik untuk tugas pemilahan dan penanganan komponen. Hyundai, Memanfaatkan kepemilikan atas Boston Dynamics untuk mengarahkan robot dalam mengatur suku cadang bagi pekerja lini perakitan.
Perdebatan Efisiensi Desain Humanoid vs Otomatisasi Konvensional
Penggunaan bentuk fisik menyerupai manusia menuai perdebatan di kalangan peneliti manufaktur. Executive Director MIT Industrial Performance Center, Ben Armstrong, menilai robot humanoid bisa menjadi “solusi jutaan dolar untuk masalah bernilai seratus dolar”. Menurutnya, otomatisasi sederhana kerap kali lebih murah dan efisien untuk menyelesaikan pekerjaan berulang.
Beberapa produsen lain memilih pendekatan desain yang berbeda:
General Motors (GM), Menguji collaborative robot (cobot) berteknologi lengan dan jemari presisi, namun sengaja meniadakan komponen kaki.
Renault, Memperkenalkan robot otomatis tanpa bagian kepala (headless) untuk merampingkan fungsi kerja di fasilitas produksi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa walau robotik diprediksi memegang peranan penting di masa depan, efisiensi biaya dan kecepatan kerja tetap menjadi tolok ukur utama sebelum robot humanoid diterapkan secara masif.



