Lama Tidak Terdengar, Begini Kondisi Mobil Listrik Neta di Indonesia
Moveroad.id – Berdasarkan rilis data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dihimpun per Juni 2026, performa komersial Neta menunjukkan grafik penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada lima bulan pertama tahun 2026 (Januari – Mei), total unit wholesales yang didistribusikan dari pabrik ke jaringan dealer Neta hanya mampu menyentuh angka 60 unit. Angka ini merepresentasikan kemerosotan masif sebesar 80,6 persen dari pencapaian periode Januari – Mei 2025 yang kala itu masih perkasa di angka 310 unit.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terlihat pada sektor penjualan unit. Penjualan ritel dari dealer ke tangan konsumen secara langsung hanya mencatatkan angka 96 unit sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Rapor tersebut menunjukkan penurunan sebesar 62,5 persen dari performa ritel periode yang sama di tahun 2025, yang sempat mengamankan angka 256 unit.
Baca Juga: Cara Tepat Ganti Baterai Smart Key Mobil Listrik Versi NETA
Jika melihat performa bulanan secara spesifik, bulan Mei 2026 menjadi momen yang sangat menantang bagi pergerakan bisnis Neta di Indonesia. Bagaimana tidak, pasokan wholesales mobil listrik mereka hampir menyentuh angka nol, dengan hanya mencatatkan 1 unit kendaraan yang terdistribusi secara nasional. Rapor bulan kelima ini anjlok sedalam 98,3 persen dari raihan Mei 2025 yang berada di level 60 unit.
Selaras dengan pasokan grosir yang tersendat, performa wiraniaga di garda depan dealer pun ikut melemah. Penjualan ritel pada bulan Mei 2026 terpangkas hingga tersisa 4 unit saja, terkoreksi 92,2 persen dari catatan Mei tahun lalu yang sanggup merilis 51 unit ke garasi konsumen.
Menutup tahun 2025 dengan total performa yang relatif stabil, mengamankan 657 unit wholesales dan 406 unit penjualan ritel.
Gempuran varian EV baru dengan harga kompetitif mulai mengikis ceruk pasar SUV kompak urban milik Neta. Angka pengiriman menyusut ke titik terendah, memaksa manajemen mengevaluasi ulang strategi penetrasi produk.
Analisis Impak Editorial: Evaluasi Strategi di Tengah “Badai” EV China
Melihat data di atas, penurunan performa Neta menjadi sinyal peringatan (wake-up call) penting bagi strategi pemasaran kendaraan listrik di Indonesia. Penurunan tajam ini bukan serta-merta menandakan pasar EV nasional sedang melemah, melainkan mengonfirmasi adanya seleksi alam yang ketat dari konsumen. Sejak akhir tahun lalu, pasar otomotif tanah air terus digempur oleh berbagai merek mobil listrik baru, terutama sesama pabrikan asal China, yang menawarkan rentang harga sangat agresif serta fasilitas garansi baterai seumur hidup (lifetime battery warranty).
Untuk bisa keluar dari tekanan performa ini dan kembali merangkak naik pada paruh kedua tahun 2026, PT Neta Auto Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan model tunggal atau promo penjualan standar. Diperlukan langkah taktis berupa penyegaran lini produk, penyesuaian skema harga agar lebih kompetitif dengan kompetitor terdekat, serta kampanye edukasi purna jual yang lebih masif guna memulihkan kepercayaan para calon konsumen urban di Indonesia.
Rapor penjualan PT Neta Auto Indonesia sepanjang Januari – Mei 2026 menjadi bukti nyata betapa dinamis dan ketatnya persaingan di segmen kendaraan listrik domestik saat ini. Penurunan drastis pada sektor wholesales hingga 80,6 persen serta volume ritel bulan Mei yang hanya menyisakan 4 unit menunjukkan bahwa strategi penetrasi pasar yang digunakan sejak Agustus 2023 perlu segera direstrukturisasi.
Di tengah pasar yang semakin dewasa dan kritis, konsistensi distribusi serta daya pikat produk menjadi kunci utama. Menarik untuk dinantikan bagaimana langkah evakuasi bisnis yang akan diambil oleh jajaran manajemen Neta dalam memanfaatkan pameran-pameran otomotif besar di sisa tahun 2026 ini demi membalikkan keadaan.



