Mobil

Hyundai dan KIA Punya Velg Aerodinamika, Buka Tutup Bilah Otomatis Ini Fungsinya

Moveroad.id – Hyundai dan Kia tengah mengembangkan teknologi velg inovatif yang memungkinkan pengemudi mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yakni aerodinamika lebih baik dan pendinginan sistem pengereman yang optimal.

Teknologi tersebut terungkap melalui paten desain velg yang memungkinkan bagian celah antarspoke terbuka maupun tertutup secara mekanis. Dengan mekanisme ini, velg dapat menyesuaikan konfigurasi sesuai kebutuhan kendaraan ketika melaju di jalan raya maupun saat membutuhkan pendinginan rem lebih maksimal.

Paten bernomor US 12,779,902 B2 tersebut resmi diberikan pada 3 November 2026. Sebelumnya, permohonan paten teknologi ini telah dipublikasikan pada Juni 2025.

Baca Juga: Hyundai Serahkan 11 Bus Listrik untuk Bali, Gandeng Karoseri Lokal Laksana

Inovasi tersebut menawarkan solusi atas kompromi desain velg yang selama ini dihadapi industri otomotif. Velg dengan banyak celah terbuka memiliki keunggulan dalam mengalirkan udara untuk mendinginkan rem. Sebaliknya, velg dengan desain tertutup lebih unggul dalam mengurangi hambatan aerodinamika.

Hyundai dan Kia mencoba menggabungkan kedua karakter tersebut dalam satu desain.

Bilah Velg Bisa Membuka dan Menutup Otomatis

Secara konstruksi, desain velg terbaru ini menggunakan komponen tambahan yang ditempatkan di balik spoke konvensional. Komponen tersebut terdiri dari sebuah cincin pusat yang dapat berputar dan sejumlah bilah bergerak. Ketika cincin berputar ke arah tertentu, bilah akan bergeser hingga menutupi celah di antara spoke utama.

Dalam posisi tertutup, permukaan velg menjadi lebih rapat sehingga aliran udara yang melewati bagian roda dapat dikendalikan. Konfigurasi ini ditujukan untuk mengurangi hambatan angin ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.

Sebaliknya, ketika bilah kembali bergeser dan bersembunyi di balik spoke utama, celah velg akan terbuka. Udara pun dapat kembali mengalir menuju komponen pengereman untuk membantu proses pendinginan.

Baca Juga: Hyundai Menggila Banderol Ioniq V Cuma Rp270 Juta

Menariknya, spoke utama yang menjadi struktur penopang velg tidak ikut bergerak. Bagian yang mengalami perubahan posisi hanya cincin internal dan bilah tambahan.

Hyundai juga menjelaskan beberapa mekanisme yang memungkinkan sistem tersebut bekerja. Pilihannya mencakup motor listrik, aktuator hidraulis, hingga sistem pneumatik.

Selain itu, terdapat opsi penggunaan komponen berbahan shape-memory alloy atau logam dengan kemampuan mengubah bentuk maupun panjang ketika mendapatkan rangsangan elektronik.

Komponen tersebut dapat mendorong mekanisme internal menuju posisi tertutup. Sementara itu, pegas atau mekanisme elastis digunakan untuk mengembalikan bilah ke posisi semula ketika aktuator tidak lagi bekerja.

Sistem ini juga dilengkapi papan kontrol elektronik berukuran kecil yang dipasang di dalam velg untuk mengatur pergerakan mekanismenya.

Kurangi Hambatan Angin, Jaga Efisiensi Bahan Bakar dan Baterai

Pengembangan teknologi ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan efisiensi kendaraan melalui pengurangan hambatan aerodinamika.

Dalam dokumen patennya, Hyundai memperkirakan roda dan ban menyumbang sekitar 25 persen dari total hambatan aerodinamika kendaraan ketika melaju di jalan tol.

Angka tersebut menunjukkan bahwa area roda memiliki pengaruh cukup besar terhadap efisiensi kendaraan. Dengan mengurangi turbulensi udara di sekitar velg, hambatan angin berpotensi ditekan sehingga kebutuhan energi kendaraan ikut berkurang.

Manfaatnya tidak hanya berlaku untuk mobil listrik, tetapi juga kendaraan bermesin pembakaran internal maupun hybrid.

Pada mobil listrik, penurunan hambatan aerodinamika berpotensi membantu meningkatkan jarak tempuh dalam sekali pengisian baterai. Sementara pada kendaraan bermesin konvensional, pengurangan hambatan angin dapat membantu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Namun, penggunaan velg tertutup secara permanen memiliki konsekuensi terhadap sistem pengereman. Aliran udara yang menuju cakram dan kaliper rem menjadi lebih terbatas sehingga pelepasan panas tidak berlangsung seoptimal velg terbuka.

Di sinilah mekanisme bilah bergerak yang dikembangkan Hyundai dan Kia memiliki peran penting.

Pendinginan Rem Tetap Jadi Prioritas

Ketika kendaraan melaju di jalan tol dengan kecepatan relatif konstan, pengemudi umumnya tidak terlalu sering menggunakan rem. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pendinginan rem tidak sebesar ketika kendaraan menghadapi situasi pengereman berulang.

Dalam kondisi seperti ini, bilah velg dapat berada pada posisi tertutup untuk mengoptimalkan aerodinamika.

Sebaliknya, ketika kendaraan digunakan di jalan perkotaan, menghadapi kemacetan, atau melewati turunan panjang di kawasan pegunungan, kebutuhan pendinginan sistem pengereman meningkat.

Bilah kemudian dapat bergeser ke posisi terbuka agar udara kembali mengalir menuju komponen rem.

Dengan pendekatan tersebut, velg tidak harus selalu menggunakan desain terbuka atau tertutup. Konfigurasinya dapat berubah mengikuti kebutuhan operasional kendaraan.

Meski demikian, Hyundai belum menjelaskan secara terperinci apakah sistem ini akan bekerja berdasarkan kecepatan kendaraan, temperatur rem, atau kombinasi sejumlah parameter lainnya.

Belum ada pula informasi mengenai besaran penurunan hambatan aerodinamika yang dapat dihasilkan teknologi tersebut.

Masih Berupa Paten, Belum Tentu Masuk Produksi

Kendati menawarkan konsep menarik, teknologi velg dengan bilah bergerak ini masih sebatas pengembangan yang tercatat dalam dokumen paten.

Belum ada kepastian apakah Hyundai dan Kia akan menerapkannya pada kendaraan produksi massal dalam waktu dekat.

Tantangan lainnya adalah kompleksitas mekanisme yang digunakan. Penempatan motor, aktuator, cincin pemutar, bilah, serta sistem kontrol di dalam velg berpotensi menambah bobot dan biaya produksi.

Aspek ketahanan juga menjadi perhatian, mengingat velg harus menghadapi getaran, benturan, debu, air, lumpur, hingga temperatur tinggi dari sistem pengereman.

Selain itu, mekanisme bergerak yang ditempatkan di dalam velg harus dirancang agar tetap andal dalam penggunaan jangka panjang dan tidak mengganggu keseimbangan roda.

Meski belum tentu berujung pada produksi massal, paten ini memperlihatkan pendekatan Hyundai dan Kia dalam mencari peningkatan efisiensi melalui komponen yang selama ini relatif jarang mendapat perhatian.

Di tengah persaingan teknologi kendaraan listrik dan hybrid, pengurangan hambatan aerodinamika menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi tanpa harus selalu mengandalkan baterai berkapasitas lebih besar atau mesin yang lebih hemat energi.

Related Articles

Back to top button