Mobil China Kalang Kabut di Pasar AS, Geely Potensi Melenggang Pakai Pabrik Volvo
Moveroad.id – Masalah terbesar bagi produsen mobil China di Amerika bukan hanya soal merek, tetapi juga regulasi dan tarif impor yang sangat tinggi.
Pemerintah AS pada 2024 menaikkan tarif kendaraan listrik buatan China dari 25 persen menjadi 100 persen, sebagai bagian dari kebijakan melindungi industri domestik.
Selain itu, pemerintah juga memberlakukan pembatasan terhadap perangkat lunak dan sistem kendaraan terkoneksi (connected vehicles) dari China dan Rusia, yang membuat jalan masuk mobil China ke AS semakin sulit.
Dengan memproduksi kendaraan di Amerika, Geely secara teori bisa menghindari tarif impor 100 persen tersebut.
Pejabat Geely sebelumnya pernah menyebut perusahaan ingin masuk ke pasar Amerika dalam waktu dua hingga tiga tahun. Menggunakan pabrik Volvo di South Carolina dinilai menjadi salah satu jalur paling realistis.
Selain fasilitas yang sudah ada, Volvo dan Geely juga berada dalam satu grup usaha, sehingga sinergi produksi bisa dilakukan lebih cepat dibanding membangun operasi baru.
Pabrik Volvo Cars di Ridgeville, South Carolina, yang sebelumnya digadang-gadang menjadi basis produksi penting di Amerika Serikat, kini justru menghadapi persoalan kapasitas menganggur.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan baru fasilitas ini berpotensi digunakan untuk memproduksi kendaraan milik induk usahanya, Geely, demi menembus pasar Amerika.
Pabrik yang dibuka pada 2018 itu awalnya memproduksi sedan Volvo S60. Namun, model tersebut hadir di tengah pergeseran selera konsumen AS yang lebih memilih SUV dan crossover. Akibatnya, produksi S60 dihentikan enam tahun kemudian.
Setelah itu, fasilitas Ridgeville dialihkan untuk memproduksi Volvo EX90 dan Polestar 3, dua model listrik premium yang penjualannya sejauh ini juga belum mampu memaksimalkan kapasitas pabrik.
XC60 Akan Diproduksi di Amerika
Sebagai langkah awal meningkatkan utilisasi pabrik, Volvo memastikan XC60 akan mulai diproduksi di Ridgeville pada akhir tahun ini.
Namun, langkah itu kemungkinan belum cukup. Dalam wawancara terbaru, CEO Volvo Håkan Samuelsson mengatakan perusahaan membuka opsi memproduksi kendaraan Geely di fasilitas tersebut.
“Kami memiliki kapasitas berlebih, sehingga kemungkinan itu bisa dipertimbangkan,” ujarnya dilansir dari Carscoops, Kamis 30/26..
Pernyataan ini memunculkan spekulasi bahwa Geely dapat memanfaatkan Volvo sebagai jalur strategis untuk memasuki pasar AS tanpa harus membangun pabrik baru dari nol.
Meski secara bisnis masuk akal, langkah ini diprediksi akan menuai resistensi politik di Amerika Serikat.
Produsen otomotif China saat ini menjadi isu sensitif, terutama terkait keamanan data, persaingan industri, dan ketegangan geopolitik antara AS dan China.
Jika Geely benar-benar menggunakan pabrik Volvo untuk produksi lokal, pemerintah AS kemungkinan dapat menerbitkan aturan baru untuk membatasi langkah tersebut.
Strategi Volvo di Tengah Tekanan Global
Bagi Volvo, opsi ini juga menunjukkan tantangan yang tengah dihadapi merek Swedia tersebut. Penjualan EV premium yang belum sesuai harapan membuat perusahaan perlu memaksimalkan aset manufaktur yang sudah terlanjur dibangun.
Jika terealisasi, Ridgeville bukan hanya pabrik Volvo, tetapi bisa berubah menjadi basis produksi penting Geely di Amerika Utara.
Artinya, di balik dinding pabrik Volvo di South Carolina, masa depan ekspansi mobil China ke Amerika mungkin sedang disiapkan.



