Mobil Listrik “Mati” di Rel Kereta! Masalah Teknologi atau Kegagalan Sistemik? Ini Kata Pakar
Moveroad.id – Insiden mobil listrik (EV) yang tiba-tiba mengalami gangguan saat melintasi rel kereta api tengah menjadi perbincangan hangat. Banyak netizen dengan cepat menuding teknologi EV sebagai penyebab utama. Namun, benarkah demikian?
Bimo Andono, S.H., S.E., M.M., Pakar Kebijakan Publik dari Himpunan Alumni IPB, memberikan sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, menyalahkan kendaraan listrik adalah langkah yang terlalu menyederhanakan masalah.
Bimo menegaskan bahwa mobil listrik modern telah dirancang dengan standar keamanan tinggi, termasuk perlindungan terhadap gangguan elektromagnetik (EMI).
“Ini bukan soal mobil listrik tidak kompatibel dengan rel kereta. Ini adalah cerminan nyata dari kegagalan kita membangun sistem transportasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi,” tegas Bimo melalui keterangan resmi diterima redaksi Senin (4/5/2026).
Baca juga: 10 Mobil Listrik China Terbaik 2025-2026, Pilihan Cerdas Selain Brand Mainstream!
Menurutnya, kendaraan yang berhenti di atas rel lebih tepat dilihat sebagai kegagalan integrasi antara infrastruktur perlintasan dengan karakteristik kendaraan modern yang berbasis digital.
Perlintasan Sebidang: Standar “Jadul” di Era Digital
Salah satu titik lemah yang disoroti adalah perlintasan sebidang. Bimo melihat adanya ketimpangan yang luar biasa antara teknologi kendaraan dan infrastruktur jalan.
Paradoks Teknologi, Indonesia gencar mendorong adopsi mobil listrik yang canggih, namun perlintasan kereta api kita masih banyak yang manual dan tertinggal puluhan tahun secara standar keselamatan.
Risiko Sistem Elektronik, Kendaraan berbasis listrik dan digital membutuhkan infrastruktur yang presisi. Tanpa dukungan infrastruktur yang adaptif, titik kritis seperti rel kereta akan selalu menjadi area berisiko tinggi.
Bimo mendorong pemerintah untuk berhenti bersikap reaktif setiap kali ada tragedi. Ia mengusulkan lima langkah strategis:
- Eliminasi Perlintasan Sebidang: Terutama di wilayah padat penduduk dengan intensitas kereta yang tinggi.
- Standar Nasional Baru: Perlintasan harus mampu beradaptasi dengan karakter kendaraan modern.
- Sistem Deteksi Real-Time: Pengembangan teknologi yang mampu mendeteksi adanya kendaraan yang tertahan di rel secara otomatis.
- Integrasi Kebijakan: Sinkronisasi antara sektor transportasi darat dan perkeretaapian.
- Regulasi Keselamatan EV: Aturan spesifik mengenai standar keamanan kendaraan listrik di titik-titik rawan.
“Bagi AutoFamily atau pemilik mobil listrik, isu ini memang mencemaskan. Namun, kita harus melihatnya secara objektif. Mobil listrik adalah masa depan, tapi masa depan itu tidak bisa berjalan di atas infrastruktur masa lalu.
Insiden ini seharusnya menjadi alarm keras bagi regulator. Membangun ekosistem EV bukan hanya soal membangun pabrik baterai atau memberikan insentif pajak, tapi juga memastikan setiap jengkal jalanan kita, termasuk perlintasan kereta, aman untuk dilewati oleh teknologi tercanggih sekalipun.”



